
Roman Dial sedang meniti pohon Kempas yang dia sayangi. foto : National Geographic Magazine
Sebagai arsitek anda pasti mencintai kayu, tetapi sebagai pencinta alam tentu anda mencintai pohon. Jadi bagaimana? Anda hanya bisa mendapatkan kayu dengan menebang pohon sementara anda tentu anti pembabatan hutan. Apa boleh buat telan saja dulu buah simakalama ini.
Tetapi ada hal yang menarik di majalah National Geographic edisi bahasa Inggris Juli 2006 hal. 31. Sebuah tim dari Alaska Pacific University yang dipimpin oleh Roman Dial terbang mengarungi separuh dunia hanya untuk melindungi sebatang pohon. Ya, sebatang pohon jenis Koompassia excelsa, yang kalau ditebang disini dan digergaji akan dijual sebagai kayu Kempas yang belakangan dibuat untuk bahan lantai parket. Kenapa tidak sekalian berkampanye untuk mencegah pembalakan hutan yang konon jutaan hektar perbulan? Jawabnya: mereka melakukan aksi langsung dan nyata. Meskipun cuma sebatang pohon namun disebutkan tingginya 268 kaki atau lebih dari 80 meter, usianya bisa seratus tahun.
Kalau ditebang bisa menghasilkan sedikitnya 150 kibik kalau diameternya katakan rata-rata 2 meter. Kalikan saja dengan sekibiknya Rp........ hasilnya bisa bikin mata pembalak lokal ijo.
Tapi The National Geographic Society yang membiayai tim, ini kemungkinan telah mengeluarkan uang lebih banyak lagi dari itu hanya atas dasar yang berkebalikan dari pembalak-pembalak kita, yaitu kecintaan mereka atas pohon ini. Kejadiannya juga jadi berseberangan. Yang satu rela menebang dengan cara bagaimanapun demi uang, yang lainnya mau mengeluarkan banyak uang supaya sebatang pohon jangan ditebang.
“Menyedihkan memandang kebawah dari puncak pohon ini sembari menyadari bahwa (pohon) ini mewakili apa yang tersisa dari hutan hujan khatulistiwa terjangkung di dunia”, kata Roman Dial.
Pohon ini menjulang sendiri ditengah-tengah perkebunan sawit di timur laut Kalimantan (tak disebut masih wilayah Indonesia atau Malaysia, mungkin mereka merasa perlu untuk merahasiakan lokasinya, tapi saya heran mengapa mereka masih menyebut Kalimantan dengan Borneo).
Uang ada, tapi orang-orang macam apa yang mau jauh-jauh datang ke pelosok-losok hanya untuk sebatang pohon? Jelas tipe idealis tapi mau bertindak nyata demi idealnya. Majalah itu menyebut mereka sebagai : The ones who never grow up, they just climb taller tree-then work to protect them. Mereka adalah genre yang banyak dijumpai ditanah airnya AS, terutama di bagian yang disebut Pacific Northwest-nya dimana memang banyak sisa-sisa terakhir pohon tua raksasa jenis Douglas Fir , Alder atau Red Oak Wood yang juga terancam ditebang. Mereka, adalah para fanatik yang hampir bisa disebut gila, seperti yang kadang-kadang kita lihat beritanya di TV, tak segan-segan berkemah diatas pohon tinggi bergiliran berbulan-bulan untuk keselamatan pohon-pohon itu. (Mudah-mudahan kita punya juga). Rupanya ideal mereka tak kenal batas negara maupun bangsa. Semangat globalisasi dalam bentuk yang paling positip. Beruntung buat kita mereka bisa mendeteksi keberadaan sisa- sisa pohon bernilai tinggi ini pada waktunya. Entah bagaimana caranya. Mungkin dengan kemujuran atau mereka punya jaringan sistim informasi yang luar biasa. Juga kenapa disisakan sebatang pohon itu oleh orang yang merubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit? Apa ada unsur mistiknya atau kebetulan mereka tahu juga nilainya lebih dari rupiahnya.
Saptono Istiawan SK,IAI 15 Juni 2006
artikel ini pernah diposting di : http://www.wastumaya.com/

Yang ini bukan pohon Kempas tapi cukup tinggi untuk pantas dilindungi.
(lokasi Punclut Bandung)
0 komentar:
Poskan Komentar