Ingin Indonesia aman sentosa makmur dan maju terus?silahkan baca pemikiran saya ini. Negara dibentuk untuk menciptakan platform-platform kehidupan.Platform yang saya maksud adalah landasan raksasa berupa fasilitas-fasilitasyang menawarkan kemudahan bagi warganya.
PLATFORM BAKU
Contohnya sudah jelas dan sudah standard dan exist di semua negara: apa yang disebut Public Works yang disini dikerjakan oleh Departemen PU.Semua warga seperti yang kita lihat dan rasakan bisa menikmati jalan-jalan,jembatan jembatan, irigasi,airport,pelabuhan dll. sebut saja semua produk Departemen PU.Contoh lain adalah Pemadam kebakaran, kepolisian, sistim pensiun, bahkan TNI-AB pun sebenarnya sebuah platform perlindungan. Pokoknya semua institusi fisik maupun bukan yang bisa dipakai/dinikmati semua warga dengan biaya sangat murah atau malah gratis sama sekali.
BUKAN GRATIS
Sebenarnya sih tidak gratis tetapi dikelola secara massive sehingga bisa sangat murah karena skala ekonominya-dan dibayar kembali dengan pajak dan segala sumber daya alam yang "terkena" pasal 33 UUD45, jadi semakin besar negaranya atau semakin banyak rakyatnya, secara teoritis, bisa semakin murah semuanya,apalagi kalau alamnya kaya berlapis-lapis kayak Indonesia ini.
PLATFORM-PLATFORM YANG SEHARUSNYA
Tugas negara adalah membangun, mengelola, memelihara, menambah dan mengembangkan platform-platform tersebut. Contohnya di Inggris dan negara negara sosialis misalnya. Platform tingkat yang lebih lanjutnya adalah Sistim kesehatan Nasional dan pendidikan. Mungkin suatu saat kita dengar mengenai platform-platform berikutnya : transportasi kota, atau air bersih (sudah gratis di Iran), gas,Pendidikan lanjut, Atau transportasi antar kota,antar propinsi , telekomunikasi, bahkan mendirikan partai politik misalnya. Pokoknya segala hal yang menyangkut kebutuhan mulai dari yang paling dasar hingga pada akhirnya yang paling kecil sejauh masuk akal.
ENTERPREUNERSHIP TETAP ADA
Bagi para penganut paham enterpreneurship tidak perlu risau dengan kebebasan berusaha karena pasti masih tersisa banyak lahan usaha dan akan selalu muncul kebutuhan baru yang bisa dijadikan ladang usaha lagi.Lagi pula untuk me-mantain dan mengembangkan setiap platform tentu tetap memerlukan dukungan sektor privat. Hitung saja para mitra Dep.PU.(misalnya)yang ada sekarang.
ANDA PUNYA TANGAN BEBAS JADINYA
Platform-platform ini gunanya agar warga bisa mencurahkan segala jenis energinya untuk hal-hal yang lebih tinggi, seperti penemuan-penemuan baru, karya seni dan lain-lain yang mungkin juga bisa dimanfaatkan untuk membangun platform berikutnya.Umpamanya seorang seniman atau musikus atau ilmuwan,olahragawan ahli hukum atau siapa saja (kalau Arsitek sepertinya tak akan ada hubungannya dengan platform ya?) bisa berkreasi atau berprestasi tanpa harus memikirkan/direpotkan hal -hal yang basic seperti soal uang bensin,rekening listrik rekening air,telepon,internet, SPP anaknya, biaya berobat.
YOU DIDN'T KNEW WHAT YOU'VE MISSING, BUT NOT ANYMORE BECAUSE YOU'RE MISSNG NOTHING NOW
Kita tak pernah tahu, sudah berapa banyak sebenarnya orang-orang Indonesiayang berprestasi seandainya mereka tak terhalang oleh biaya pendidikan umpamanya. Atau seorang yang seandainya mampu membayar biaya pengobatannya kemudian tetap tetap hidup untuk kemudian menjadi pemenang Nobel umpamanya. Sama seperti yang disebutkan oleh para pakar lingkungan :kita tak pernah tahu berapa jenis tanaman-tanaman obat untuk penyakit kritis yang telah musnah oleh pembabatan hutan tropis yang semena-mena.
RENCANA PEMBANGUNAN OTOMATIS BERKELANJUTAN
Program pembangunan 5 tahun bisa dibuat lebih jelas targetnya: Setiap 5tahun atau 10 tahun terbentuk satu platform baru. Mengenai platform apa dan bagaimana cara membangunnya barangkali itulah yang jadi program-program yang ditawarkan oleh kandidat-kandidat /partai-partai peserta pemilu. Jadi para pemilih tidak usah terlalu pusing untuk mempelajari program-progarm para peserta pemilu.
KEMUDAHAN MENGEVALUASI KEBERHASILAN PROGRAM
Juga para konstituent kemudian dengan mudah bisa mengevaluasi tingkat keberhasilan program-program yang "dijual "tersebut. Lagi pula pada akhirnya pembangunan negara tidak perlu berubah-ubah haluan setiap pergantian pemerintahan.Ini sama sekali bukan ide orisinal, negara memang secara alamiah dibentuk untuk kesejahteraan dan kemajuan manusia, bukan sekedar supaya warganya bisa bikin paspor yang diterima diseluruh dunia..........
DEPLATFORMISASI SEKARANG INI
Sementara yang kita saksikan dinegara kita justru beberapa "deplatformisasi" Pendidikan dasar memang nominalnya bebas tapi ............bahkan pendidikan tinggi dibuat "mandiri" (salah satu alasannya :masak yang kaya di subsidi?????).......ada Jalan tol dalam kota........Bawa mobil, jalan bayar,belok bayar, brenti bayar, mogok apalagi......Bensin kita harganya sama dengan negara kaya yang tidak banyak menghasilkan minyak bumi ....Air minum lebih mahal dari bensin ........Sistim tarif PAMyang progresip, makin banyak pakainya justru makin mahal rate-nya......Sama seperti bunga bank, makin besar depositonya makin besar bunganya, melawan hukum skala ekonomi......Masuk rumah sakit mungkin bisa kembali sehat tapiketika lihat rekeningnya bisa semaput lagi.....atau pasien disandera ..ataudipersulit askesnya.......tarif penerbangan yang cenderung menurundiusahakan supaya naik lagi...dst. dst
BERHALA YANG BERNAMA UANG
Pokoknya sepertinya nada dasarnya adalah memang benar-benar sang "dewa " uang , against all odds. Dan tragisnya , uang tersebut pada akhirnya diprioritaskan untuk membayar hutang (yang kalau diproyeksiin secara aritmatik kedepan akan abadi walau sudah jual-jual BUMN) dan untuk dicuri oleh para muamanatnya.(berhutangnya pun dimaksudkan untuk dicuri).Saptono
Oleh:Istiawan SK IAI, 28 Juni 2005
0 komentar:
Poskan Komentar