nutfah

Jumat, 04 Desember 2009

MIKRO EKONOMI PETANI OLEH Y.B. MANGUNWIJAYA


Kang Karsin Menghitung danBertanya.

BAGIAN 1

MALAM Jumat Kliwon saya mengunjungi kang Karsin, petani muda usia tetapi tua perhitungan. Dia sedang asyik menghitung dan menghitung di remang‑remang lampu teplok, dalam suasana hujan pertama sesudah kemarau panjang, sedangkan bau keme­nyan sepoi‑sepoi menghantu dari tetangga entah siapa.

Coba bayangkan, begitu keluh kang Karsin, modal yang tertanam dalam tanah sawah, alat‑alat dan bahan benih, dan lain‑lain belum dihitung, Rp 2 juta per esuk. Jadi keuntungan cuma 6270/Rp 2 juta = 0,3% setiap panenan atau 0,075 % per bulan.(lihat tabel)

Yaa, sanggahku, tetapi kan Kakang tidak setiap hari bekerja penuh terus‑dur selama 4 bulan. Menghitunglah ia lagi. Untuk semua itu dibutuhkan kira‑kira rata‑rata 10 hari @ 6 jam kerja.

Naaah, kan lumayan, hiburku. Perjam kang Karsin mendapat Rp 6270/60 = Rp. 105/jam.

= Hohoooh! Ya jangan gitu menghitungnya; Pak. Kan itu lalu seperti Wak Spandri Kol itu, Kolnya mogok. Minta dorongan orang, yang minta Rp 500 pahala. Dia marah‑marah. Keterlaluan, ka­tanya . Rp 500 selama seperempat jam mendorong, kan artinya Rp 2000 per jam alias gaji hampir Rp 1,5 juta per bulan; kayak menteri keuangan saja, semburnya pelit.

= Hahahaa! Saya punya kawan dosen universitas yang gajinya Rp2000 sebulan.

= Uh! Dosen goblok barangkali.

= Hahahaaa, tepat! Tepat!

= Tapi beliau punya mobil?

= Dua.

= Lho, kok bisa.

= Nah, itulah rahasianya.

= Kami kaum tani tidak punya rahasia. Kalau memang Rp 690 per panenan, ya sekian itu.

= Lha, kok masih hidup terus.

=Jelas itu tidak dari menggarap sawah. Kan Pak tahu, saya sehari ­hari menukang kayu. Dan sang bini, untung bini model Merapi, Pak. Keturunan Nyai Roro Kidul, babunya! Tetapi itu tadi masih belum dihitung betul‑betul. Kalau dihitung betul, dan memang itu kenyataannya, kami selalu tombok.

= Kok mau?

= Habis, lalu isteri‑anak makan apa?

= Daripada rugi, kan lebih baik berhenti jadi tani.

= Memang, memang Pak Kawan‑kawan lalu menjual sawah. Satu esuk sudah dapat beli Colt loakan. Tetapi itu pun risiko. Banyak kecelakaan dan sopir ugal‑ugalan. Saya sendiri tak berani menjual sawah. Tetapi begitu banyak sawah dijual, Pak, lantas jatuh di tangan tuan ­tuan tanah yang semakin luas kerajaannya.

= Kan sudah ada. UUP Agraria.

= Ah Pak .... (bisik‑bisik), andai PKI ‑ BTI masih kuasa, tidak mungkin hal‑hal semacam ini ter­jadi.

= Hush! Gila kau!

BAGIAN 2

= Betul! Memang betul sudah lama gila, Pak. Mana ada orang sehat mau kerja dengan tombok seperti kami ini?

= Ah, barangkali kau keliru menghitungnya, Atau barangkali kang Karsin tidak memanfaatkan Insus atau kurang mengikuti Bimas. Di Sumatera Barat sana, di sawah Laweh ada koperasi tani yang dulu cuma menghasilkan 4,5 ton/Ha, tetapi sekarang berhasil 16,3 ton gabah per HA atau 16,3 kuintal per esuk. Nah, bagai­ mana .... ?

= Terserahlah, saya tidak tahu bagaimana cara menghitung mereka. Tetapi seandainya pun saya menghasilkan 16 kuintal/esuk, artinya keuntungan juga baru Rp 160.000 ‑ Rp 34.000 – Rp 6.000 = Rp 120.000 per 6 bulan (tidak 4 bulan) = Rp 20.000 per bulan. Tetapi ini jelas impian. Kalau dihitung betul pos‑pos pengeluaran, mana bisa hidup! Dibanding dengan harga sawah, ya baru 1 % keuntungan. Pokok­nya Pak, diputar, dipelintir, ditu­tupi, ditopengi, bagaimana pun akuilah ya akuilah: Indonesia sekarang makmur aman tente­ram, tetapi itu hanya mungkin terjadi karena pak Tani, dan barangkali semua orang kecil, buruh, dan sebagainya. dipaksa berkorban dan memikul beban pembangunan secara samasekali tidak adil dan tidak manusiawi.

Saya mendengar sendiri, tidak bohong Iho, Pak, dua orang polisi omong‑omong di warung kopi pasar Muntilan: "Tani itu ibarat kerbau. Diberi makan pas‑pasan saja, cukup untuk menarik bajak dan garu. Tidak perlu. lebih. Agar orang‑orang kota dapat makan nasi dengan murah".

Begitu pak! Tetapi barang ­barang dari kota dan segala mode­ mode mereka boleh dijual sangat mahal di desa. Dua tahun yang lalu Toyota Kijang untuk Huller pak Lurah masih Rp 1,45 juta kosong. Sekarang sudah Rp 3 juta. Tetapi harga gabah tetap harus kerdil, begitulah. ltu Kijang contoh mewah, Pak. Tapi tentang barang ­barang lain, apalagi biaya anak sekolah, sudahlah, tidak seban­ding dengan kenaikan harganya.

Belum terhitung kerja‑bakti wajib macam‑macam, Pak. Mem­bereskan jalan‑raya, jembatan dan ini‑itu yang hanya dapat dinikmati kaum berkendaraan mesin, milik kaum bukan‑tani. Dan masihlah tega para pejabat, bersama para ulama, pendeta, pastor dan prope­sor doktor macam‑macam ras yang berkotbah: "Bangunlah desamu! Jika bukan kau sendiri yang membangun desa mu sen­diri, siapa lagi!" Lalu: "Jangan pindah ke kota! Di kota hanya kesengsaraan dan maksiatlah yang menunggumu!"

Naaah, aneh juga. Jika di kota hanya kesengsaraan yang menunggu, mengapa para priyayi itu e, kok senang amat bercokol di dalam kota? Mesti ada udang di balik batu, nih. Memang betul, Pak, apa yang tersirat dari omong an dua orang polisi di warung kopi pasar Muntilan itu: Kemakmuran kota Indonesia berdiri di atas hati tersayat si tumbal tani (dan korban kaum buruh).

Katakanlah, Pak, semua ini kepada orang‑orang priyayi sana, supaya mereka tahu, atas tumbal apa mereka masih dapat makan dan tidur. Dan jikalau anak‑anak kami terus tanpa henti membanjiri kota meninggalkan desa, sudilah mereka paham, bahwa itu sangat‑ amatlah nalar, karena tidak ada manusia berakal normal mau dijadikan tumbal atau puing‑puing urung pondasi gedong orang lain. Desa akan habis? Memang kami selalu dan semakin kurang tenaga pekerja sawah, tetapi perempuan‑perempuan kami sangat subur seperti mata‑air bengawan Brantas. Dan lelaki‑lelaki kami semakin belajar dari pengalaman

BAGIAN 3

DALAM Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional III (15‑19 September 1981) tidak ada ilmuwan ekonomi maupun sosiologi satu pun yang menyinggung masalah yang tergolong paling besar dan paling vital. dalam setiap penelitian ekonomi sosial, yakni bagaimana struktur/sistem pembagian kerja dalam masyarakat, berhubung dengan pembagian hasil di Indo­nesia? Erat hubungannya dengan itu: Berapa biaya ekonomi birok­rasi serta kedudukan/fungsinya dalam ekonomi sosial di Indone­sia? Padahal sudah di tahun 1893 merintisnya sangat pagi.

JIKA dihitung betul secara eko­nomi cermat, hasil bersih kang Karsin si‑petani sawah kelas II normal, yang, dapat dipakai untuk makan, sandang, menyekolahkan anak‑anak, dan seterusnya hanya­lah Rp 173 sebulan per esuk atau Rp 1730/HA; dengan rentabilitas terhadap nilai sawah per esuk (lihat Kompas 30/9‑'81) 0,075% per bulan. Sebab, harga gabah sudah dikurung mati oleh mekanisme sangat ketat dari Pemerintah.

Padahal biaya‑biaya persekolahan anak‑anak, transpor, pakaian dan harga kebutuhan‑kebutuhan pola hidup kota yang agresif masuk desa, sudah tak sebanding ml lagi. Kita tahu, memang dari iai pertimbangan kahyangan nasio­nal‑intemasional, pengekangan harga bahan‑bahan pokok seperti beras, dinilai selaku kunci strate­gis politik, hankam, sosial, eko­nomi, dan seterusnya.

Tidak ada pemerintah satu pun di Asia ini yang dapat berdiri satu bulan tanpa digempur pemberontakan berdarah, bila tidak sanggup mengekang harga beras. Tetapi apakah itu harus berarti bahwa seluruh gemah‑ripah ­kerta‑raharja Nusantara kita hanya mungkin terjangkau, bila kang Karsin si‑petani (dan dik Benjo si‑buruh juga) dipaksa ber korban di luar batas? Hanya agar kaum non‑tani di kota dapat kenyang makan nasi?

Sedangkan kota (tidak sebagai daerah/orang geografik, tetapi se­bagai sistem produksi dan kegiat­an ekonomi/kultural) boleh lelua­sa menikmati kesejahteraan umum dengan bebas beruntung dari skala tinggi harga produk ­produk kota yang dibanjirkan masuk desa?

BAGIAN 4

AKHIR‑AKHIR INI kita mem­baca sekian banyak polemik dan debat tinggi tentang Ekonomi Pancasila. Itu menggembirakan, karena. debat ilmiah berarti hati yang serius ingin partisipasi dalam pemecahan soal. Khususnya mengapa jurang antara kaya dan miskin, antara yang pandai dan bodoh, antara yang kuasa dan lemah, semakin lebar dalam. Tidak perlu orang ahli, setiap orang tahu, pasti ada " sesuatu" yang tidak betul.

Hanya bagi kaum Karsin dan Benjo, semua itu masih abstrak kebak kata yang kurang meyakinkan. Memang ilmu pengetahuan selalu. dan wajar bekerja dengan abstraksi‑abstraksi, demi pe­nemuan susunan "atom‑atom gejala" secara prinsipiel; demi penguasaan soal nanti secara umum strategis. Akan tetapi boleh jadi, itu karena bangsa kita memang berbakat abstrak “ngelmu" klenik. Atau juga. karena banyak masalah ditabukan dan ilmuwan tidak berani me­nyentuhnya,

Seharusnya berani (lihat: Dr Jujun Suriasumantri, "llmu Dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik", makalah inti Kongres llmu Pengetahuan Nasonal III, 15‑16 Sept. '81), akan tetapi maklumlah, menurut tradisi pribumi kita Yang sudah sangat mendarah‑daging, ilmu pengetahuan, sastra maupun seni, (agama juga!) selalu cenderung dianggap primer ada untuk memperkokoh singgasana raja. Lihatlah ekspresi spontan yang tepat menyentuh soal ini secara humor (tapi tidak kalah benar dan persis daripada uraian imiah) dalam serial kartun Ki Panji Koming di Kompas Minggu, 20 Sept '81.

Salah satu masalah Yang tergolong vital dan harus dibicarakan dalam setiap pengolahan ilmu ekonomi dan sosiologi (selaku bahan ilmu moral/etika) tapi sayang ditabukan, ialah pertanya­an kongkrit ini: Bagaimana struk­tur/sistem pembagian kerja dalam hubungannya dengan keti­dak‑wajaran/ ketidak‑adilan pembagian hasil bersama (dalam kasus kita: di Indonesia).

Ini pertanyaan gamblang. Bukan misalnya: "Apakah Eko­nomi Pancasila itu di antara kutub‑kutub sistem kapitalisme dan sosialisme?" Atau: "Mengapa dalam Ekonomi Pancasila, per­tumbuhan ekonomi tidak berten­tangan dengan pemerataan/de­mokrasi ekonomi?" atau: "Ciri Ekonomi Pancasila ialah keke­luargaan menurut UUD '45 asal 33 dan GBHN." Itu bagus untuk diskusi akademik di ruangan yang sejuk ber‑AC, berhidangan teh botol, roti taart, tetapi abstrak. Apalagi: "Jika kita semua konse­kuen Pancasilais, dengan sendiri­nya fajar Ekonomi Pancasila akan menyingsing." Lebih repot lagi: "Ekonomi Pancasila ialah eko­nomi paling keramat yang abadi sejak nenek‑moyang sampai kiamat." Kalau begitu, akan sung­guh kiamat nanti.

Orang awam (termasuk penulis) hanya berkepentingan mendapat penegasan atas pertanyaan praktis ini: Liberal atau sosialis atau kapitalis atau es‑campur kapitalis dengan komunis dengan Mata­ram, es‑dawet UGM dengan Ul dengan Bappenas atau CSIS terse­rah, tetapi mbok ya dibongkar itu 'kahanan" (keadaan) di mana (antara lain) petani bekerja 4 bulan hanya mendapat Rp 690 untuk hidup sehari‑hari, plus kerja­bakti membetulkan jalan untuk mobil‑mobil yang bukan milik­nya, sedangkan pak X‑Y‑Z mem­peroleh 10juta hanya cret‑cret‑crot tandatangan.

Pertanyaan kedua: Apa fungsi­ ekonomis faktual dan biaya pe­meliharaan lembaga‑lembaga bi­rokrasi ditinjau dari peneropong­an ekonomis nasional? Dua per­tanyaan itu langsung menyangkut apa gerangan yang dimaksud oleh asas kekeluargaan" dalam UU. '45 dan GBHN.

BAGIAN 5

KETIKA suatu masyarakat masih sederhana, demikian E.Durkheim sejak 1893 (E.Dur­kheim, The Division of Labor in Society, N.Y. 1964, hl. 130‑131,50), "tata‑masyarakatnya memang di­dasarkan atas susunan nilai‑nilai yang diakui bersama. Sendi­ sendinya ialah kesamaan perihal perasaan, pikiran‑pikiran dan pen­dirian‑pendirian antara sesama anggota." Suasana dan tata­ ekonominya juga berdasarkan ke­satuan bahasa serta tata­kerjasama, "sa‑eka kapti sa‑eka praya" (satu niat, satu usaha); spontan, suka‑sama‑suka dan tidak pemah diragukan ke mana­nya, demi‑apanya dan bagaima­nanya,

Tetapi itu tempo dulu. Dalam masyarakat yang sudah bergolak modem, soalnya sudah tidak lagi sa‑eka kapti sa‑eka praya model lama. Tetapi toh masih harus ada sebentuk tata‑kapti tata‑praya, yang mencegah hukum rimba kembali atau anarki. Binatang pun tidak menghendaki anarki.

Gotong‑royong diganti dengan team‑work dan pembagian kerja. Pembagian kerja yang saling mengisi, saling menguntungkan. Dulu unsur‑unsur tenaga‑kerja (buruh), pencari modal (kapitalis), pembina usaha (manajer) dan se­bagainya ada semua dalam satu orang, si‑Undagi atau nelayan misalnya. ,

Sekarang ada pembagian kerja antara sekian banyak orang atau pihak. Bahkan Pemerintah atau Tentara pun sudah ikut main (V.O.C. misalnya, masih ingat?). Itu baik dan bagus dan memang tidak bisa lain. Cumaaa, cumaaa ...nah, ini pertanyaan klasik, tetapi abadi rupa‑rupanya. Lalu bagai­mana cara saling membagi hasil kerjasama itu? Nah, naaah.... iya ini , iya ini! Siapa yang terus ­menerus cuma menggotong, siapa yang enak‑enak serba meroyong?

Yang jelas, barang‑barang hasil Kota yang masuk desa boleh naik dan naik terus harganya, sedang­kan hasil desa tidak boleh naik... demi hankam nasional. Sama juga halnya, majikan boleh mogok ten­tang daftar kenaikan/penyesuaian gaji buruh) tetapi kaum buruh tidak boleh mogok. Apa yang sebetulnya terjadi?

Jika suatu saat dirasakan orang kota (sekali lagi: sebagai sistem ekonomi/kultural) akan lebih menguntungkan (kota. dengan bendera nasional), bila dipakai sistem modem (misalnya harga barang produk atau impor oleh kota), maka kang Karsin di desa harus membelinya dengan patok­an sistem industri "modem". Gotong‑royong tradisional boleh cuti dulu.

Tetapi bila ada saat lain yang dirasakan untung oleh orang kota (misalnya membeli beras dan per­baikan jalan untuk kendaraan bermotor), maka "'ujug‑ujug". tiba‑tiba banting setir, argumen gotong‑royong tradisional itulah demi kepentingan "umum" dib­riefingkan. Dan harga gabah harus “mengabdi kepentingan nasio­nal". Dengan akibat upah‑kerja bersih untuk pak Tani cuma Rp 504/bulan (bila masih punya 3 esuk sawah,) atau Rp 17/ hari. Di jaman Belanda sebenggol/hari, Dilihat dari daya‑belinya: Rp 250 seka­rang. Lho! Lho! Lho!

BAGIAN 6

DURKHEIM telah membeda­kan antara pembagian kerja yang spontan suka‑sama‑suka, yang berprinsip "saya bisa maju tanpa menghalang‑halangi orang lain maju juga, dengan cara kami masing‑masing" dan pembagian kerja yang terpaksa. Paksaan datang dari persaingan upah.

Seorang doktor sastra membuka restoran. Terpaksa, karena honor kedoktorannya seperti "resi di atas angin". Ada yang datang dari persaingan tempat‑kerja. Seo­rang S.H menjadi pesuruh kantor Bupati. Karena, maaf, hanya itu yang kebetulan lowong. Itu semua tergolong, menurut istilah yang dipakai oleh ProE Dr J.A.M. van Wezel (pidato pengukuhan pada Katholieke Hogeschool di Tilburg, Nederland, 20 Des 1979) dalam pembagian kerja paksaan murni. Tetapi yang lebih gawat lagi, dan yang kala itu belum disentuh‑oleh­Durkheim ialah, pembagian kerja paksaan struktural.

Seperti kasus kang Karsin dan kaum petani kita sekarang. Ke­kalahan kang Karsin bukan karena harga gabah rendah, itu ­sebabkan bangsa Indonesia kini lebih suka makan roti‑keju dan bakmi sagu, atau karena sekian ribu mahasiswa sekarang sudah insyaf, merakyat, dan ber‑KKN tanpa bayaran, menjadi petani­ petani teladan yang berteknologi pertanian mutahir; sehingga panenan gabah kelewat melim­pah. akan tetapi karena sudah dibaut‑sekrup mati dalam suatu mesin strategis buatan kota.

Ya, tapi itu kan bukan tugas ekonomi atau sosiologi untuk me­mecahkan soal macam itu! Itu kan tugas politikus! Setuju ... dan tidak setuju. Sebab suka tidak suka, pengetahuan adalah kekuasaan, kata Francis Beacon sudah nun sekian abad yang lalu.

BAGIAN 7

Tetapi bolehlah, seandainya ada ahli ekonomi jaman sekarang yang masih ingin bersih steril dari kuman‑baksil yang beterbangan di tengah masyarakat dan dunia keputusan (alias politik), baiklah, cukuplah ahli tersebut menunjuk­kan saja (hanya menunjukkan, tidak perlu berkasak‑kusuk di departemen‑departemen atau DPR) melalui riset dan informasi mass‑media seluas mungkin (dengan bahasa sederhana), struk­tur‑struktur dan mekanisme fak­tual apa saja yang sedang berope­rasi di kalangan masyarakat sehingga tentu saja logis tidak mengherankan, jurang antara kaya dan miskin, antara yang pandai dan bodoh, antara yang kuasa dan lemah, semakin hari semakin lebar.

Ini sudah jasa ahli ekonomi/ sosiologi yang sangat berharga. Sebab siapa tahu, nanti ada yang memang profesional politis atau pengambil keputusan, yang mem­bacanya, yang tergerak hatinya dan memperbaiki yang kurang wajar dan adil dalam GBHN baru yang akan datang nanti di kelak kemudian hari barangkali. Atau siapa tahu, ada peraturan ini‑itu sebelum Pemilu datang diubah, sehingga semua, baik desa maupun kota saling menarik man­faat dengan cara lebih baik, lebih Pancasila, dan sebagainya dan seterusnya.

Sebab apa ya rela dan senang priyayi kota yang menikmati nasi putih, mendengar ucapan kedua polisi di warung kopi pasar Mun­tilan itu (lihat Kompas, 30‑9‑'81): "Tani itu ibarat kerbau. Pas‑pasan diberi makan, cukup agar masih bisa menarik bajak dan garu." Dan mosok Angkatan'45 senang, peng­hasilan tani Indonesia Merdeka kok cuma seper‑limabelas dari penghasilannya di jaman Neder­lands Oost‑Indie.

Oleh Y.B. Mangunwijaya

(Seperti yang dimuat di harian KOMPAS 3 November 1981 )


courtesy KOMPAS dan YB Mangunwijaya,


CARA MENANAM PADI


Kalau kalau suatu saat datang waktunya dimana kita harus menanam padi sendiri ( semoga tak akan pernah terjadi) inilah cerita yang mungkin berguna:


Sesudah hujan tiba atau air bersih tersedia mulailah para petani menggarap sawahnya.

1. 1. Dibuat persemaian / tempat pembibitan

2. 2. Bibit di taburkan

3. 3. Sementara menunggu bibit bersemai, Petani menyiapkan sawah yang sebenarnya akan ditanami

4. 4. Pagi pagi dengan kerbau atau traktor Kubotanya mereka membajak sawahnya.

5. Setelah dibajak lahan dibiarkan beberapa hari.

6. 5. Jika bongkah bongkah sudah lembek sawah di garu supaya bongkah tanah jadi lumpur.

7. 6. Pekerjaan 3 sampai 4 diusahakan selesai tepat pada saat bibit sudah cukup umur untuk dipindah ke sawah yang akan ditanami

8. 7. Mulai Bapak dan ibu petani kita tamam padi

9. 8. Masa senggang buat ibu dan bapak petani

10. 9. Pekerjaan menjadi sengang hanya mengawasi air

11. 10. Lewat satu atau dua bulan: pekerjaan menyiang yaitu mencabuti rumput rumput yang tumbuh diantara batang batang padi.

12. 11. Bila padi mulai berbuah mulai kesibukan setiap hari untuk melindungi padi mereka dari serangan burung burung hama.

13. 12. Saat menguning para petani mulai sibuk lagi, kali ini disertai kegembiraan, nyanyian nyanyian ria lahir disini. Setiap hari mereka sibuk menuai.

14. 13. Selama itu mass media sibuk meributkan kenaikan harga beras.

Disarikan dari buku : “Prof. Ir. Sedyatmo, Intiusi Mencetus Daya Cipta” penerbit Teraju (Mizan Publika) 2009 ,Tim redaksi: Hj. R. Ay. Sumarpeni Sedyatmo SH, Mardjono Notodihardjo, Ir. bagoes Moedijantoro, Riantini binti Sedyatmo. halaman 222. foto Telur keong mas yang kelak jadi hama padi oleh Istiasa

Rabu, 18 November 2009

PERLEBAR TROTOIR PERSEMPIT JALAN


Kemacetan di Jakarta buat saya sebenarnya mengherankan dalam satu hal : Mengapa pengendara kendaran bermotor begitu sabar atau begitu tahan mengalaminya? Atau begitu pasrah tak ada pilihan lain yang layak?
Kompas Rabu minggu lalu 11 November 2009 menurunkan berita yang mungkin sedikit menjelaskan.
Mantan walikota Bogota di Kolombia yang juga perintis Busway Enrique Penalosa pada forum Jakarta Sustainable Convention mengusulkan pada Pemprov DKI agar ( membuat kebijakan umum) mempersempit jalan dan memperlebar trotoir. Menurutnya kebijakan ini telah di terapkan di Bogota dan ia nilai cukup berhasil .
Semestinya para yang berwenang di sistim transportasi di DKI menanggapi dengan serius usul terobosan ini dengan melakukan penjajagan, penelitain dan percobaan atas hal ini.
Pada kapasitas maksimumnya trotoir mungkin punya kemampuan menyalurkan orang per meter lebar berlipat dibanding jalan, mengingat di trotoir satu orang hanya membutuhkan 0,8 m2 sementara dijalan dengan rata rata penumpang mobil 1,8 membutuhkan 6,3 m 2.

Sayang sekali , menurut Gubernur Fauzi Bowo seperti yang ditulis dalam berita itu, saran itu masih sulit diterapkan di Jakarta karena rekayasa sosial untuk mengubah budaya warga agar meninggalkan kendaraan pribadi tidak dapat dilakukan secara drastis.

Sebenarnya saya tak tahu, berita ini menjelaskan atau malah menggelapkan.

Rabu, 30 September 2009

SKALA INTENSITAS MERCALLI






Skala Richter yang sampai saat ini selalu digunakan untuk menjelaskan kekuatan suatu gempa di berita berita di media massa rasanya kurang memberikan pemahaman tentang buruknya situasi gempa. Menurut Ir.Sjafei Amri Dipl. E. Eng, salah satu pendiri IAPPI ( Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia) yang juga seorang seorang ahli dan praktisi yang bergerak dibidang bangunan tahan gempa, skala Richter hanya menggambarkan kekuatan yang dikeluarkan dalam suatu kejadian gempa tepat di titik pusat gempa. Jadi kalau disebutkan Gempa berkekuatan 7.6 dalam Skala Richter maka tingkat kekuatan yang dimaksud adalah yang berada di epicentrum, semakin menjauh dari situ semakin lemah kekuatannya. Jadi malah bisa memberikan kesan salah, lagipula itu belum menggambarkan tingkat kerusakan yang terjadi, kata praktisi ahli kita yang bermukim di Bandung yang memegang beberapa patent dalam elemen struktur tahan gempa.

Skala yang lebih tepat dipakai dalam memberitakan kerusakan akibat gempa adalah Skala Intensitas Mercalli ( Mercalli Intensity Scale, biasa disingkat MM- Modified Mercalli Scale). Memang skala ini tidak ditakar atas hal hal yang kuantitatif seperti pada sistim skala Richter tetapi skala MM bisa segera memberi gambaran kerusakan yang terjadi setelah Gempa .

untuk jelasnya lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Mercalli_scale

Simpati sedalam dalamnya buat korban gempa di Padang 30 September 2009.

Gambar atas: Gedung TK Pertiwi yang rusak akibat gempa di Pengalengan 2 September 2009 .insert: Sjafei Amri ( binanusa@bdg.centrin.id)


Sabtu, 19 September 2009

SHALAT IED IN DER GARTEN


Sungguh sejuk shalat di taman. Makanya perbanyak taman supaya semuanya bisa mentakbirkan asma Allah di taman. Jannatul Madinati.

PERAYAAN KE FITRIAN






Perayaan apakah yang lebih menggembirakan dari perayaan kembalinya ke fitrahan kita?
Selesai mengarungi satu bulan yang penuh ke berkahan dan pengampunan?

Selamat ber Iedul Fitri 1 syawal 1430 H.

Mohon maaf lahir bathin atas kesalahan kesalahan beta.

Saptono istiawan dan keluarga.

Senin, 14 September 2009

PUASA KITA DALAM WAKTU


Saudaraku yang Muslimin dan Muslimah

Saya punya pertanyaan mengenai waktu ibadah puasa kita ,

Pertanyaan 1:Mengapa yang di rukyat hanya tanggal 1 Ramadhan dan tgl 1 syawal saja. Bagaimana dengan sepuluh bulan lainnya?

Pertanyaan 2: Apabila tgl 1 Ramadhan berdasar Rukyat harus di geser sehari dari seperti yang tercantum di Almanak apakah seharusnya tanggal tangal berikutnya di bulan bulan berikutnya di Almanak juga harus digeser. Kalau jawabannya ya ,berarti penanggalan Hijrah tidak Fix dan semestinya tidak bisa diandalkan ( kenyataan sangat bisa diandalkan). Kalau jawabannya tidak, berarti 1 Ramadhan Puasa dan 1 Ramadhan Almanak tidak selalu jatuh pada hari yang sama.

Barangkali ada diantara saudaraku yang bisa menjelaskan.

Selamat menyelesaikan ibadah di bulan yang penuh berkah ini.

Saptono, 25 Ramadhan 1430 H ( menurut Almanak)

NB. saya berikrar Insya Allah tahun depan akan mengacu Mekkah untuk menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal . kalau Mekkah hari ini, saya akan berpuasa besoknya.

Jadinya muncul pertanyaan 3 yang khusus saya tujukan ke diri sendiri: mengapa tak saya lakukan ini dari dulu ya?


Mohon dicermati sekali lagi blog saya yang terkait : Garis Bujur Yang melalui Mekkah.